Bolehkah kita bertanya; hal apakah yang membedakan antara seorang manusia dan seekor binatang. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan eksistensial karena menyentuh aspek dasariah seorang manusia yang bisa membedakannya dari seekor binatang. Pertanyaan ini juga merupakan pertanyaan dilematis karena seringkali term binatang juga dialamatkan kepada seorang manusia. Term binatang juga menjadi trend manakala seseorang ingin melukai orang dengan kata-katanya. Karena itu kata binatang bisa saja membuat lawan bicara “lumpuh” seketika di hadapannya.
Untuk menjawabi pertanyaan ini pertama-tama kita perlu memastikan sudut pandang setiap jawaban yang diberikan. Sudut pandang itu menjadi batasan agar kita bisa memberikan jawaban yang tepat dan agar orang lain tidak secara salah memahami jawaban yang kita berikan. Seorang polisi akan memberikan jawaban bahwa yang membedakan manusia dan binatang adalah manusia itu harus taat pada hukum positif yang ada dalam sebuah negara sedangkan hukum positif tidak berlaku untuk binatang karena binatang mempunyai hukumnya tersendiri. Seorang agamis akan menjawab bahwa manusia adalah seseorang yang taat beribadah dan taat pada perintah agamanya sedangkan binatang itu tidak mempunyai agama. Seorang ateis akan menjawab bahwa manusia adalah seseorang yang bisa secara praktis maupun teoretis menyangkali Allah sebagai Pribadi yang transenden terhadap alam semesta. Penyangkalan teoretis yakni seseorang yang menyatakan sebagai keyakinannya: Allah tidak ada, dan penyangkalan praktis yakni jika orang menjalani hidupnya seolah-olah Allah tidak ada – dan binatang berada pada level kedua ini karena binatang tidak mempunyai kemampuan pada level pertama seperti yang disebutkan itu. Seorang penjahat atau perampok akan menjawab bahwa baik manusia maupun binatang adalah objek tindakan kejahatannya dan juga objek rampokannya.
Dari semua jawaban itu kita akan berhenti pada tuntutan moral yang mengharuskan kita untuk memberikan suatu jawaban yang pasti untuk membedakan dan memberi batasan antara manusia dan binatang. Jawaban ini berasal dari keyakinan moral Kristen yang menyatakan dengan tegas bahwa manusia itu adalah seorang pribadi yang dilengkapi dengan karunia khusus yakni hati nurani, akal budi, dan kehendak bebas. Karakter pribadi dan karunia khusus inilah yang menurut penilaian moral Kristen membedakan manusia dan binatang. Manusia dan binatang adalah hewan. Namun manusia adalah hewan yang berakal budi. Binatang juga adalah salah satu makhluk hidup ciptaan Allah tetapi tidak secitra dengan Allah.
Sekalipun bisa dibuktikan secara rasional, jawaban dari keyakinan moral Kristen di atas menurut hemat saya masih bersifat abstrak. Sifatnya yang abstrak itu bisa dibuktikan ketika berhadapan dengan orang-orang yang berasal dari keyakinan agama yang lain, orang yang tidak beragama, orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk memahami (lebih berkaitan dengan pendidikan) term pribadi, atau lebih tepatnya seorang anak kecil yang masih polos dan belum mempunyai kemampuan berpikir dan menganalisa secara baik. Maka saya memilih untuk beranjak dari perhentian keyakinan moral di atas dan merumuskan jawaban yang lebih aktual dan sederhana. Jawaban yang aktual dan sederhana itu bisa saja berasal dari seorang anak kecil. Karena itu jika kita bertanya kepadanya apa yang membedakan antara manusia dan binatang, maka ia akan menjawab secara polos bahwa manusia memakai pakaian sedangkan binatang tidak memakai pakaian. Baginya pakaian adalah fenomen riil yang bisa ia amati secara langsung dan fenomen itu menampakan diri kepadanya. Fenomen ini tentunya tidak hanya berlaku bagi seorang anak kecil tetapi bisa berlaku lintas batas baik itu usia, status, tingkat pendidikan, agama, dan bidang lainnya, kecuali budaya karena ada beberapa budaya yang anggota-anggotanya tidak memakai pakaian. Namun, pengecualian itu juga tidak statis karena budaya adalah produk manusia dan bisa berkembang dan berubah dalam waktu.
Manusia Berpakaian dan Binatang Berpakaian – Manusia Telanjang dan Binatang Telanjang
Kita akan menemukan suatu keganjilan dan keanehan ketika mengamati dan menelusuri pernyataan sebagai sub tema pada bagian ini; manusia berpakaian dan binatang berpakaian – manusia telanjang dan binatang telanjang. Pernyataan pertama manusia berpakaian dan binatang berpakaian, keanehan dan keganjilannya terletak pada binatang yang berpakaian. Pernyataan kedua manusia telanjang dan binatang telanjang, keanehan dan keganjilannya terletak pada manusia. Mengapa?
Untuk menjawabi pertanyaan itu kita perlu meneliti peristiwa penciptaan manusia dalam kitab Kejadian. Dalam kisah penciptaan itu ditulis bahwa Allah menciptakan manusia dan juga binatang sebagai makhluk hidup yang telanjang. Manusia tidak mengenakan pakaian, begitu pun juga dengan binatang. Manusia diciptakan dalam ketelanjangan. Inilah yang disebut oleh Yohanes Paulus II dalam TOB (Teologi of the Body) sebagai original nakedness (ketelanjangan asali). Inilah waktu awal mula di mana manusia hidup dalam kesucian dan kemurnian, tidak berdosa. Pada saat itu manusia baik laki-laki maupun perempuan melihat sesamanya sebagai persona/pribadi. Manusia melihat sesamanya sebagai subjek dalam dirinya sendiri. Pada titik ini sebenarnya ketelanjangan itu in se baik karena setiap pribadi saling menghargai satu sama lain dan ketelanjangan itu bukan menjadi persoalan atau skandal moral yang mengakibatkan dosa. Ketelanjangan itu baru dipersoalkan ketika manusia itu jatuh dalam dosa, memakan buah pohon terlarang. “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang ; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” (Kej. 3:7). Telanjang yang timbul pada manusia pertama itu adalah tanda gangguan dalam keseimbangan dunia ciptaan, yang disebabkan dosa. Kesadaran akan ketelanjangan itu diiringi dengan kesadaran bahwa dirinya menjadi objek yang bisa diamati oleh orang lain sekaligus orang menjadi objek seks yang bisa diamati dan dinikmati. Maka dengan itu masing-masing mereka menjadi malu. Hal ini tidak mempunyai pengaruhnya untuk binatang. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, binatang tidak berubah sebagaimana manusia yang langsung berpakaian untuk menutup aurat tubuhnya. Binatang tetap dalam keadaan awal mulanya sebagai makhluk yang telanjang.
Di sinilah latar belakang spiritual keyakinan akan dihadirkannya pakaian bagi manusia. Pakaian menjadi instrumen untuk menutup aurat seorang manusia dan membatasi kecenderungan pengobjekkan manusia sebagai objek seks. Maka menelanjangi diri berarti membinatangkan diri sendiri dan menelanjangi orang lain berarti membinatangkan orang lain.
Tindakan membinatangkan orang lain inilah yang dilakukan oleh para perampok yang diceritakan oleh Yesus dalam kisah orang Samaria yang baik hati. Korban adalah objek rampokan mereka. Di sini mereka pantas disebut sebagai penjahat yang “amoral dan korup”. Mereka tidak hanya menghilangkan harta milik (hak kepemilikan barang) tetapi juga melucuti dan menghilangkan harga diri (hak kepemilikan harga diri).
Dalam zaman modern ini, para pelaku pembinatangan orang lain sudah melakukan revolusi. Strategi dan metode yang mereka gunakan juga sudah lebih modern. Mereka memanfaatkan media massa yang memberikan kemudahan bagi mereka untuk melancarkan aksi pembinatangan itu. Pelaku utama dalam tindakan itu ialah kapitalisme. Hemat saya, merekalah pelaku baru perampokan moderen seperti yang dinarasikan Yesus. Kapitalisme dalam sistem ekonomi neoliberal sekarang ini dengan bantuan media massa telah membuat pergeseran wacana tentang seks dari ruang privat ke ruang publik. Kapitalisme memaksa seks masuk ke dalam ruang publik. Setelah memasuki ruang publik, seks menjadi komoditi yang potensial untuk diperjualbelikan. Pornografi adalah gejala yang paling pas untuk mendeskripsikan hal ini. Dalam pornografi, kapitalisme melihat seks dan manusia semata-mata sebagai objek atau barang yang memiliki harga jual yang tinggi dan bisa mendatangkan profit yang tinggi pula karena motivasi utama yang menggerakkan ekonomi kapitalistik adalah nafsu manusia guna memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Motivasi kapitalisme itu didukung oleh kenyataan bahwa seks selalu menjadi masalah yang up to date yang kemudian memiliki nilai komersial yang tinggi.
Akhirnya ketelanjangan sebenarnya bukan merupakan suatu persoalan atau skandal apabila ditempati hanya sebatas pada ruang privat. Ruang privat yang dimaksud di sini yakni ruang lingkup suami dan istri di rumah atau di tempat lain seperti hubungan seks. Atau hal lain yakni seperti seorang yang mandi di kamar mandi, di kamar dan lainnya. Ketelanjangan akan menjadi suatu persoalan ketika dipublikasikan kepada publik dan menjadi objek seks publik untuk dipertontonkan. Jika hal ini terjadi maka pelakunya terlibat dalam tindakan membinatangkan diri bahkan membinatangkan orang lain.
Pakaian merupakan bagian kesatuan yang tidak terlepas dalam kehidupan sosial. Pada dimensi personal, pakaian menjadi media untuk mengeksistensikan ekspresi dan gagasan yang terkadang muncul dalam bentuk yang serba abstrak. Melalui dimensi sosial kultural, pakaian dijadikan sebagai media komunikasi, promosi, bahkan pembentukan ideologi. Berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sosial, dapat direfleksikan melalui produk-produk pakaian, sehingga formulasi komunikasi antara pengguna, penikmat, dan pencipta pakaian terbentuk secara sistematis.
Memang di banyak tempat terutama di Eropa pada umumnya, kita akan menjumpai binatang (binatang peliharaan/kesayangan) yang juga dikenakan pakaian. Namun sesungguhnya pakaian pada binatang itu tidak sama pengertiannya dengan pakaian pada manusia. Pakaian pada binatang itu lebih pada fungsi aksesoris yakni untuk memperindah atau mempercantik binatang itu – sekalipun seringkali manusia terjebak dalam pemikiran yang sempit seperti itu mengenai pakaian yang dikenakannya.
Berdasarkan seluruh penjelasan di atas, saya akhirnya yakin dan tetap konsisten pada tesis saya yaitu bahwa pakaian merupakan pembatas paling aktual antara manusia dan binatang. Menelanjangi diri sendiri berarti membinatangkan diri sendiri dan menelanjangi orang lain berarti membinatangkan orang lain. ***








0 Komentar